Kecerdasan Buatan di Smartphone: Antara Janji dan Kenyataan Pahit
- AI yang Merugikan: Lebih dari Sekadar Kesalahan
- Mengapa Kita Menerima Bencana Ini?
- Masa Depan Chipset Mobile: Pengumpulan Data yang Masif
- Antarmuka Pengguna yang Buruk Mendorong Kebutuhan AI
- AI: Solusi untuk Antarmuka yang Lebih Baik?
- Menolak AI yang Berprasangka dan Menipu
- Etika dalam Pengembangan AI
Kecerdasan buatan (AI) pada smartphone menuai kritik tajam karena dianggap sebagai langkah mundur dalam teknologi seluler. Alih-alih memberikan manfaat, AI justru dipandang cacat, berpotensi berbahaya, dan mengikis reputasi perusahaan teknologi terkemuka.
AI yang Merugikan: Lebih dari Sekadar Kesalahan
AI di smartphone bukan hanya sekadar salah atau rentan terhadap kesalahan, tetapi secara aktif merugikan. Fitur generatif AI, seperti generator gambar dan alat sintesis teks, menjadi sarana penyebaran informasi yang salah dan berbahaya.
Contoh Nyata Kerugian Akibat AI
Beberapa contoh mencakup laporan palsu, penyebaran stereotip rasial atau misoginis, serta fasilitas untuk penipuan. Manfaat AI bagi konsumen saat ini hampir tidak ada, dan tidak ada yang membeli perangkat hanya karena kehebatan AI-nya.
Mengapa Kita Menerima Bencana Ini?
Alasan utama adalah daya tarik dari janji Artificial General Intelligence (AGI), sebuah mesin yang mampu berpikir setara manusia. Perusahaan teknologi menganggap kesalahan ini sebagai bagian dari proses menuju AGI.
AGI: Mimpi atau Ilusi?
Para pemimpin teknologi percaya bahwa mencapai AGI hanya soal pengumpulan data pengguna yang cukup untuk melatih mesin berpikir. Namun, pandangan ini dianggap naif.
Masa Depan Chipset Mobile: Pengumpulan Data yang Masif
Chipset mobile generasi berikutnya akan sangat kuat, dengan inovasi utama pada kapasitas untuk mengumpulkan dan menyalurkan data dari perangkat pengguna ke pusat cloud. Snapdragon 8 Elite Gen 5 dipuji karena kemampuannya mengumpulkan data pengguna untuk menyempurnakan model AI.
Antarmuka Pengguna yang Buruk Mendorong Kebutuhan AI
Antarmuka pengguna smartphone saat ini dianggap buruk, dengan layar sentuh monolitik yang memiliki jutaan input potensial, tetapi 99% di antaranya salah.
Sentuhan Kapasitif: Mimpi Buruk Pengguna
Ketergantungan pada layar sentuh kapasitif tanpa kontrol fisik terasa seperti mimpi buruk. Ponsel modern lebih sulit dinavigasi dibandingkan BlackBerry dengan QWERTY lengkap.
AI: Solusi untuk Antarmuka yang Lebih Baik?
Karena kita tidak akan kembali ke tombol fisik, antarmuka AI menjadi tak terhindarkan. Untuk melampaui ketidakefektifan Siri dan Gemini, kita harus melatih model AI yang lebih unggul.
Partisipasi Pengguna: Kunci Perbaikan AI
Satu-satunya cara untuk meningkatkan AI adalah dengan terus menggunakan teknologi tersebut, sambil terus memperbaiki kesalahannya. Proses ini membutuhkan partisipasi ribuan, bahkan jutaan pengguna.
Menolak AI yang Berprasangka dan Menipu
Meskipun menerima ketidaksempurnaan untuk melatih model AI, kita tidak wajib menerima fitur yang berprasangka dan menipu. Jika fitur smartphone menghasilkan stereotip rasial atau misoginis, itu adalah konsep yang buruk dan harus dibuang.
Contoh Nyata: Bigotisme dalam AI
Contohnya adalah ketika Google Pixel 9a diminta membuat wallpaper dengan gambar orang sukses, hasilnya menunjukkan bias. Masalah ini sudah terjadi sejak smartphone pertama dengan AI generatif, Motorola Razr Plus 2024.
Etika dalam Pengembangan AI
Jika kemampuan smartphone untuk meringkas berita didasarkan pada penemuan fakta atau distorsi kebenaran, kemampuan itu harus dihilangkan. Perusahaan seperti Apple tampaknya belum menetapkan batasan etika dasar ini.
Menetapkan Batasan untuk Masa Depan AI
Kita dapat menerima masa depan yang dikendalikan oleh AI, tetapi kita harus menetapkan batasan sekarang. Kita harus menolak penggunaan AI yang didasarkan pada kebencian, prasangka, atau penipuan. Lebih baik bersabar dan menghindari produk AI yang mengambil jalan pintas daripada mengutamakan etika.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow