Ancaman AI pada Anak-Anak: Chatbot, Deepfake, dan Eksploitasi

Ancaman AI pada Anak-Anak: Chatbot, Deepfake, dan Eksploitasi

Smallest Font
Largest Font

Kecerdasan Buatan (AI) telah merambah berbagai aspek kehidupan, termasuk yang dihadapi anak-anak sehari-hari. Namun, di balik manfaatnya, tersimpan ancaman serius seperti interaksi dengan chatbot berbahaya, penyalahgunaan deepfake, hingga risiko eksploitasi yang memerlukan perhatian serius dari orang tua dan pihak terkait.

Bahaya AI yang Mengintai Anak-Anak

AI hadir di ponsel, aplikasi, game, dan mesin pencari yang digunakan anak-anak. Beberapa di antaranya mungkin tidak berbahaya, namun banyak juga yang berisiko memanipulasi atau terlalu kuat untuk dihadapi anak-anak tanpa pengawasan.

Tara Steele, Direktur Safe AI for Children Alliance, mengungkapkan kekhawatirannya, "Sulit untuk memilih satu saja kekhawatiran."

Andrew Briercliffe, konsultan spesialisasi masalah kepercayaan dan keamanan online, menambahkan, "Kita harus ingat bahwa AI adalah ruang yang BESAR, dan dapat mencakup segalanya mulai dari informasi yang salah, hingga CSAM (Materi Pelecehan Seksual Anak)."

Risiko Chatbot bagi Kesehatan Mental Anak

Chatbot yang selalu tersedia dan jarang dimoderasi menjadi sumber risiko besar bagi anak-anak. Dirancang untuk terdengar peduli dan meyakinkan, chatbot berpotensi memberikan dampak negatif pada kesehatan mental anak.

Ketergantungan pada Chatbot sebagai "Teman"

Anak-anak beralih ke chatbot untuk dukungan emosional, saran, dan bahkan bantuan kesehatan mental. Briercliffe mengatakan bahwa anak muda lebih memilih chatbot daripada mencari bimbingan dan bantuan dari profesional.

Steele menambahkan bahwa beberapa penelitian menunjukkan bahwa chatbot sering memberikan saran berbahaya kepada anak-anak.

Kasus Tragis Akibat Interaksi dengan Chatbot

Steele menjelaskan, "Kami sekarang memiliki banyak kasus terdokumentasi di mana anak-anak yang menggunakan alat ini didorong untuk menyakiti diri sendiri, dan ada kasus hukum yang sedang berlangsung di AS dengan bukti kuat yang menunjukkan bahwa interaksi chatbot diduga berperan dalam kematian tragis anak-anak karena bunuh diri."

Psikologi Rogerian dalam Chatbot

Bartuski menjelaskan bahwa psikologi Rogerian, yang menyajikan penghargaan positif tanpa syarat, juga dibangun ke dalam banyak platform ini.

Bartuski menambahkan, "Interaksi AI menjadi lebih baik daripada pengalaman kehidupan nyata. Hubungan nyata itu berantakan. Ada argumen, perbedaan pendapat, dan suasana hati. Ada juga batasan alami. Anda tidak bisa selalu menelepon teman Anda jam 3 pagi karena dia mungkin sedang tidur. AI selalu ada."

Penyalahgunaan Deepfake dan Dampaknya

AI mempermudah manipulasi gambar, termasuk pembuatan gambar seksualisasi yang realistis dari foto-foto anak-anak. Hal ini membuka peluang terjadinya pelecehan dan pemerasan.

Aplikasi "Nudifikasi" dan Pelecehan Sebaya

Briercliffe menjelaskan, "Aplikasi 'nudifikasi' sedang digunakan, terutama oleh remaja laki-laki, menargetkan sesama siswa dan kemudian berbagi konten, yang bisa sangat menyusahkan para korban. Mereka yang melakukan itu tidak menyadari betapa ilegalnya itu."

Pemerasan dengan Gambar Manipulasi AI

Steele menambahkan, "Anak-anak diperas menggunakan gambar-gambar yang dimanipulasi semacam ini."

Bartuski menuturkan, "Saya telah melihat penipu menggunakan AI untuk menyodomi foto-foto remaja dan kemudian memeras mereka untuk mendapatkan uang. Ada kasus di Kentucky di mana seorang penipu melakukan ini pada seorang remaja dan mengancam akan merilis foto-foto itu. Remaja itu bunuh diri karena stres akibat hal ini."

Peran Orang Tua, Sekolah, dan Pemerintah

Perlindungan anak-anak dari bahaya AI memerlukan kerjasama dari berbagai pihak, termasuk orang tua, sekolah, pemerintah, dan perusahaan teknologi.

Regulasi dan Tanggung Jawab Perusahaan Teknologi

Steele menekankan, "Perusahaan teknologi harus tunduk pada regulasi yang mendesak dan bermakna jika kita ingin melindungi anak-anak. Saat ini, terlalu banyak tanggung jawab yang dibebankan pada keluarga, sekolah, dan niat baik industri, dan itu sama sekali tidak aman."

Pengawasan Independen dan Standar yang Kuat

Briercliffe meyakini bahwa diperlukan pemeriksaan eksternal yang lebih kuat di seluruh industri. Ia menambahkan, "Harus ada pengujian dan evaluasi pihak ketiga yang independen dan wajib sebelum penempatan. Kita juga memerlukan pengawasan independen, transparansi tentang bagaimana sistem berperilaku dalam kondisi dunia nyata, dan konsekuensi nyata ketika perusahaan gagal melindungi anak-anak."

Langkah-Langkah yang Dapat Diambil Orang Tua

Meskipun regulasi belum sepenuhnya hadir, orang tua dapat mengambil langkah-langkah untuk melindungi anak-anak mereka dari potensi bahaya AI.

Edukasi dan Komunikasi Terbuka

Bartuski menyarankan agar orang tua memahami risiko dan manfaat AI. Selain itu, penting untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak untuk berbicara tentang pengalaman mereka dengan AI tanpa rasa takut dihakimi.

Bartuski menjelaskan, "Jika anak-anak merasa dihakimi atau khawatir tentang konsekuensinya, mereka tidak akan обратиться ke orang tua ketika ada sesuatu yang salah. Jika mereka tidak merasa aman berbicara dengan Anda, Anda menempatkan mereka dalam situasi yang berpotensi berbahaya dan/atau eksploitatif."

Penggunaan AI di Ruang Bersama

Steele menyarankan untuk memberlakukan "ruang bersama", yang melibatkan penggunaan alat AI di area komunal, bereksperimen bersama, dan menghindari penggunaan satu lawan satu secara pribadi di balik pintu tertutup.

Keseimbangan dan Aktivitas Alternatif

Bartuski menekankan pentingnya mengajarkan anak-anak tentang keseimbangan. Mengurangi waktu layar saja tidak cukup, perlu diganti dengan kegiatan yang menarik, menyenangkan, dan menantang secara kognitif.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed