Harga Emas Diprediksi Terus Meroket Hingga 2026, Ini Faktor Pendorongnya!

Harga Emas Diprediksi Terus Meroket Hingga 2026, Ini Faktor Pendorongnya!

Smallest Font
Largest Font

Harga emas global diperkirakan akan terus mengalami tren peningkatan hingga akhir tahun 2026. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik global yang meningkat dan pelemahan indeks dolar Amerika Serikat menjadi dua faktor utama yang mendukung kenaikan harga logam mulia ini.

Faktor Geopolitik dan Pelemahan Dolar AS Mendorong Kenaikan Harga Emas

Ibrahim Assuaibi menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi fluktuasi harga emas dunia. Ia menyoroti bahwa harga logam mulia ini diperkirakan akan terus mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026.

"Apa yang mempengaruhi fluktuasi harga emas dunia dan logam mulia yang kemungkinan besar masih akan mengalami kenaikan sampai akhir tahun 2026 di hari Rabu. Ada 2 faktor yang mempengaruhi adalah faktor geopolitik, yang kedua adalah pelemahan Indeks Dolar. Saya mungkin akan langsung dulu ke faktor Geopolitik," kata Ibrahim yang dikutip dari Liputan6.com, Senin (29/12/2025).

Kondisi global saat ini penuh dengan ketidakpastian, mulai dari konflik lintas kawasan hingga dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat. Kombinasi kedua faktor ini menjadikan emas kembali menjadi pilihan utama sebagai instrumen lindung nilai atau safe haven bagi investor di seluruh dunia.

Ketegangan Geopolitik di Afrika dan Amerika Latin Memicu Lonjakan Harga Emas

Ibrahim menyoroti situasi politik yang memanas di Afrika dan Amerika Latin sebagai pendorong utama pergerakan harga emas. Secara spesifik, ia menyebut konflik antara Amerika Serikat dan Nigeria yang dipicu oleh serangan pasukan Amerika terhadap kelompok militan.

Militan tersebut diketahui menguasai sejumlah wilayah penghasil minyak mentah yang menjadi kepentingan perusahaan energi Amerika. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika tidak akan ragu melakukan serangan terhadap target militan di Nigeria.

"Di mana pasukan Amerika melakukan penyerangan terhadap militan, militan Nigeria yang menguasai sebagian minyak mentah di Nigeria, dan kita harus tahu bahwa Presiden Donald Trump di media dia mengatakan bahwa Amerika akan melakukan serangan terhadap target militan di Nigeria," ujarnya.

Potensi Gejolak Pasar Energi Global Akibat Konflik di Nigeria

Nigeria, sebagai anggota OPEC dengan kapasitas produksi sekitar 1,3 juta barel minyak per hari, berpotensi menyebabkan gejolak di pasar energi global jika produksinya terhambat akibat konflik. Situasi ini umumnya mendorong investor untuk mengalihkan dana ke aset aman seperti emas.

Memanasnya Hubungan AS-Venezuela Turut Pengaruhi Harga Emas

Selain Afrika, ketegangan geopolitik juga meningkat di Amerika Latin, terutama antara Amerika Serikat dan Venezuela. Ibrahim menilai hubungan kedua negara kembali memanas seiring langkah Amerika yang kerap melakukan penyanderaan terhadap kapal kargo yang berkaitan dengan Venezuela.

Situasi ini diperparah dengan keinginan Presiden Trump agar Presiden Venezuela Nicolás Maduro segera lengser dari kekuasaan. Tekanan politik dan ekonomi terhadap Venezuela diperkirakan akan terus meningkat, menciptakan ketidakstabilan baru di kawasan tersebut.

"Venezuela dan Amerika, ini pun juga terus dijadikan sebagai momok memanasya situasi geopolitik. Karena Amerika sendiri terus melakukan penyanderaan terhadap kapal kargo. Yang kemungkinan besar keinginan dari Trump ini agar Maduro segera lengser dari Presiden, dari pemimpin di Venezuela. Ini yang cukup menarik," jelasnya.

Tekanan AS Terhadap Venezuela Picu Ketidakstabilan Regional

Tekanan politik dan ekonomi yang berkelanjutan dari Amerika Serikat terhadap Venezuela diperkirakan akan terus memicu ketidakstabilan di kawasan Amerika Latin, sehingga mendorong investor untuk mencari perlindungan dalam aset-aset safe haven seperti emas.

Upaya Perdamaian Rusia-Ukraina dan Dampaknya pada Pasar Emas

Dari Eropa, Ibrahim menyoroti rencana pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky terkait upaya perdamaian Rusia-Ukraina. Amerika Serikat dilaporkan membawa sekitar 20 draf perjanjian.

Namun, Ibrahim menilai proses menuju perdamaian tidak akan mudah. Zelensky disebut berencana menggelar referendum untuk menentukan sikap masyarakat Ukraina terkait wilayah yang saat ini dikuasai Rusia.

Referendum di Ukraina: Jalan Buntu Menuju Perdamaian?

Ibrahim menilai bahwa kemungkinan besar Ukraina akan menolak referendum wilayah yang dikuasai oleh Rusia, sehingga berpotensi menggagalkan upaya perdamaian dan mempertahankan ketegangan geopolitik di Eropa Timur.

"Menurut saya bahwa Ukraina seorang nasionalis kemungkinan besar akan menolak referendum wilayah yang dikuasai oleh Rusia. Ukraina, wilayah Ukraina yang dikuasai oleh Rusia tidak mungkin akan dicaplok oleh Rusia. Nah ini yang cukup menarik bagi Zelensky sendiri," pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed